Sebagian besar garam dapur yang dikonsumsi manusia di dunia saat ini berasal dari air laut yang dievaporasikan di bawah terik matahari, kemudian diproses secara kimia. Tapi ternyata, itu bukanlah satu-satunya cara untuk memperoleh garam. Sebagian garam lainnya di dunia ini diperoleh lewat proses penambangan di daratan.
Dengan kata lain, garam adalah komoditas tambang. Namun karena harga jual garam per tonnya jauh lebih murah dibandingkan mineral tambang lain, banyak orang yang tidak memandangnya demikian. Harga murah tersebut berkaitan dengan nilai guna dan ketersediaan garam di alam, sama seperti harga komoditas tambang pada umumnya. Garam adalah komoditas konsumsi, dan tersedia dalam jumlah yang sangat banyak—kalau bukan tidak terbatas—di alam bebas, sehingga nilai jualnya pun menjadi begitu murah.
Meski demikian, ternyata ada satu jenis garam yang diperjualbelikan dengan harga berbeda, yaitu himalaya salt alias garam himalaya. Tren konsumsi garam hasil tambang ini melonjak dalam beberapa tahun terakhir karena banyaknya praktisi kesehatan yang mempromosikan penggunannya, bahkan menyarankan penggantian garam dapur biasa dengan garam himalaya. Efeknya, harga garam himalaya menjadi lebih mahal dari harga garam dapur biasa. Berbagai klaim tentang garam himalaya mengacu pada satu hal : garam himalaya lebih menyehatkan daripada garam dapur hasil evaporasi air laut karena kandungan mineralnya yang lebih tinggi. Namun benarkah demikian?
Mengenal Garam Dapur Biasa dan Garam Himalaya
Garam adalah mineral yang dapat terbentuk secara alami maupun karena campur tangan manusia. Sebagian besar komposisi garam disusun oleh sodium klorida. Banyak orang bahkan sering tertukar dalam memakai sebutan “sodium” dan “garam”, karena dalam satuan massanya, 98% garam adalah sodium klorida itu sendiri. Sisa dua persen lainnya pada garam adalah kandungan mineral lain seperti zat besi, potassium, kalsium dan lain-lain.
Tubuh manusia pada dasarnya membutuhkan pasokan garam atau sodium dalam dosis yang tepat untuk menjaga fungsi otot dan sistem peredaran darah. Garam dengan tambahan unsur iodium, secara khusus berfungsi memenuhi kebutuhan iodium manusia, agar manusia yang mengonsumsinya tercegah dari gangguan fungsi kelenjar tiroid yang dapat berujung pada penyakit gondok.
Ada dua cara memproduksi garam, yaitu lewat mengevaporasikan air laut dan lewat penambangan garam di bawah tanah. Salah satu garam yang diperoleh lewat proses penambangan adalah garam himalaya.
Garam himalaya sebagian besar diekstraksi dari Tambang Garam Khewra di Pakistan Utara, berjarak ratusan kilometer dari barisan pegunungan Himalaya. Khewra adalah salah satu tambang garam tertua dan terbesar yang ada di dunia. Garam di Khewra diduga merupakan hasil evaporasi air laut secara alami pada 500 juta tahun yang lalu, ketika daratan di himalaya masih terendam air laut. Karena keberadaannya 5.000 kaki (sekitar 1,5 kilometer) di bawah pegunungan Himalaya, garam himalaya selama ini terproses secara alami oleh tekanan yang tinggi, sehingga memiliki tingkat kemurnian yang jauh di atas garam dapur biasa.
Selain lebih murni, garam himalaya juga ditambang secara langsung oleh para penambangnya menggunakan peralatan tambang tradisional dan tanpa melibatkan zat kimia berbahaya bagi lingkungan maupun penambangnya sendiri. Proses penambangan tersebut, meskipun lambat, tetapi berperan dalam menjaga kealamian garam himalaya hingga sampai kepada konsumennya.
